Tampilkan postingan dengan label Kapur IX. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapur IX. Tampilkan semua postingan

Music of west sumatera

Senin, 03 Juni 2013

it is a music tool about minang kabau custome music, this instrument we call Talempong in kapur sembilan, this instrument was very famous in west sumatera, this instrument will used when wedding party and traditional celebration.
ini adalah alat tradisional dari sumatera barat yang diberi nama talempong, talempong merupakan alat music tradisional yang sangat populer dan menjadi sebuah alat musik yang mempunyai nilai kebudayaan yang sangat tinggi sehingga setiap upacara adat dan acara pernikahan maka talempong merupakan alat music untuk mengiringi perjalanan proses pernikahan,   

The tours guider in the west sumatera

dengan ada perkembangan zaman maka, terjadi pulah perkembangan kebudayaan, tapi untuki menjaga kebudayaan tersebut maka pemandu wiasa sangatlah berperan sekali dan saya disini mencoba untuk memberikan sedikit infor masi bahwa betapa besar keindahan alam yang kita miliki dan kebudayaan yang sangat tinggi dan untuk itu sata mencona mengangkat kebudayaan tersebut sehingga kita menghargai kebudayaan itu tersebut.
it was guider in the west sumatera, and we can give you about all the culture and custom information, and we will give you good service of local service and western service by good guider.


tsue cimiong traveling 




Kapur IX, Lima Puluh Kota


historical about Kapur IX 











Pemerintahan
 • Camat Elsiwa Fajri
Luas 723,36 km²
Jumlah penduduk 25.981 jiwa
Kepadatan 36 jiwa/km²
Kapur IX adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Indonesia. Kapur IX adalah salah satu dari tiga belas kecamatan yang ada di bagian timur Kabupaten Limapuluh Kota. Luas wilayah Kecamatan Kapur IX 723,36 Km2 yang berarti 21,56 % dari luas Kabuputen Limapuluh Kota yang luasnya 3.354,30 Km2,yang terdiri dari 7 nagari dan 31 jorong.
  1. Nagari terluas adalah Nagari Galugua 128 Km2 terdiri dari 4 jorong,yaitu: (a)Galugua, (b) Koto Tangah, (c) Tanjung Jajaran, (d)Morgan,
  2. Nagari Sialang 117 Km2 terdiri dari 4 jorong, yaitu :(a)Sialang Bawah, (b)Sialang Ateh, (c)Lubuk Koto, (d)Ronah Bengkek,
  3. Nagari Lubuak Alai 106 Km2 terdiri dari 6 jorong, yaitu :(a)Suka Karya, (b)Alai Baru, (c) Rumbai, (d) Balai Tangah, (e) Koto Tinggi, (f)Saiduanau,
  4. Nagari Koto Lamo 103,36 Km2 terdiri dari 5 jorong, yaitu (a)Koto Tuo, (b)Koto Tangah, (c)Tanjung Bungo, (d) Lolo, (e)Sungai Nyanyiang,
  5. Nagari Muaro Paiti 95 Km2 mempunyai 6 jorong, yaitu :(a) Kampuang Baru, (b) Kampuang Dalam, (c) Kampung Talawi, (d) Sungai Panjang Indah, (e) Kampung Duri, (f) Koto Tinggi,
  6. Nagari Koto Bangun 91 Km2 mempunyai 3 jorong, yaitu: (a)Pulau Sialang, (b) Simpang,(c)Kampung Baru
  7. Nagari Durian Tinggi 81 Km2 terdiri 3 jorong, yakni: (a) Bintungan Sati, (b)Cinta Maju, (c)Ranah Pembangunan
Ibu kecamatan adalah Muaro Paiti yang terletak 78 Km dari Kota Sarilamak. Batas Kecamatan Kapur IX adalah sebagai berikut:
Utara Provinsi Riau
Selatan Kecamatan Bukit Barisan dan Gunuang Omeh
Barat Kabupaten Pasaman
Timur Kecamatan Pangkalan Koto Baru

Daftar isi

 [sembunyikan

[ Topografi (topography)

Topografi Kecamatan Kapur IX bervariasi antara datar, bergelombang dan berbukit-bukit dengan ketinggian dari permukaan laut terendah pada nagari Lubuak Alai (137 m dpl) dan tertinggi puncak Bukit Sapan Kijang di Nagari Koto Lamo (720 m dpl).
Kecamatan ini mempunyai Bukit diantaranya : B. Sangkar Puyuah, B.Batu Aguang, B.Rimbo Putus, B.Rimbo Pancuang,B. Sapan Kijang, B.Pandan, B. Rangau, B.Tadung, B.Batu Putiah, B.Alang Gadang, B.Kandang Lawan, B.Luncing, B.Lereng Bincang, B.Karsik Nambun, B. Koto Gilingan, B. Angau, B. Tapanggang,B. Bakar, B.Luncung, B.Pandam, B.Rimbo Sangkar,B. Batu Putiah, B.Malin, B.Balego, B.Patai, B. Tusam, B. Mangkudu, B.Batang Manau, B.Gong dan B.Ngalak.
Daratannya dialiri dengan banyak sungai besar dan kecil yang telah dimanfaatkan masyarakat untuk transportasi mempergunakan speed boat, sumber irigasi sawah, pencarian ikan dan sumber Galian C pasir dan kerekel. Nama–nama sungai tersebut adalah : Sungai Batang Kapuar, Batang Sopan, Batang Gamuruah, Batang Mangan, Batang Karuah, Kapua Putiah, Kapua Ketek, Sungai Keluaran,Sungai Janiah, Batang Jolu, Batang Tialan,Batang Morgan, Batang Tiawan, Batang Gian dan Batang Dondan.

Sejarah (Historical about kapur IX)

Menurut Tambo( custom historical)

Dalam Tambo disebutkan bahwa Kecamatan Kapur IX sekarang merupakan bagian Ranah dari Luak Limo Puluah dan merupakan wilayah Tengah dari Kampar Kanan. Yang dikatakan Kapur IX adalah : Koto Lamo, Lubuak Alai, Koto Bangun, Durian Tinggi, Sialang, Kapua, Pongkai, Gunuang Malelo, dan Tanjuang Muaro Takuih.
Sementera itu Galugua disebutkan dengan VI Koto Kampar yang terdiri dari dua bagian ,pertama Galugua III Koto di Mudiak atau Galugua Ateh atau dinamakan juga Muaro Sungai Lolo. Kedua Galugua III Koto di hilia atau galugua Bawah.
Adapun susunan pemerintahan Kampar menurut adat adalah Pemerintahan Bandaro yang disebut dengan andiko 44 , yang 40 jatuh ke Kampar dan yang empat jatuh ke Kapua IX, dan yang jatuh ke Kapur IX yaitu :1) Dt. Rajo Balai di Muaro Takus sebagai Pucuk Andiko 44, 2) Dt. Sati di Gunuang Malelo sebagai Timbalan Pucuk Andiko, 3) Dt. Bandaro di Tanjuang sebagai Timbalan Pucuk Andiko dan Rajo Mahimpun di Muaro Takus sebagai manti pucuk andiko. Dan sebagai andiko lainnya adalah : Dt. Rajo Malelo di Muara Takus, Dt. Parabu di Pongkai, Dt. Majo di Gunuang Malelo, Dt. Bandaro Kayo di Lubuak Alai,Dt, Bandaro Kuniang di Muaro Paiti, Dt. Bandaro Hijau di Durian Tinggi, Dt. Bandaro Sati di Lolo Koto Lamo, Dt. Rajo di Galugua

Zaman Belanda

Dizaman Belanda Kapur IX dinamakan Kelarasan Kapua nan Sembilan dan daerah (Landschap) Galugua III Koto di Hilia yang merupakan bagian dari Kecamatan Kampar Atas ,Kabupaten Limapuluh Kota dengan pusat pemerintahanya di Bangkinang dengan Kontroler : OP Besseling, Jaksa Royan Dt. Jamarif dan Ajung Jaksa adalah Majid Khatib Sampono dan Halat Sutan Marajo.
Setelah perobahan pembagian administrasi Sumatera Barat bulan Nopember 1914 maka Kecamatan Kapur IX bernama Onderdistrik Sialang (Kapur IX dan Galugua III Koto ) dari Onderafdeling Pangkalan , Afdeling Limapuluh Kota dengan Assiten demangnya bernama Jamaluddin Dt. Indo Marajo berkedudukan di Sialang.

Zaman kemerdekaan

Pada awal kemerdekaan wilayah Kecamatan Kapur IX merupakan bagian dari kewedanaan Bangkinang, Luhak Lima Puluh Kota. Setelah Agresi Belanda II berdasarkan intruksi Gubernur Militer Sumatera Tengah No. 10/GM/ST/ 49 tanggal 9 Nopember 1949, dan diresmikanlah Kabupaten Limapuluh Kota Pada Tangal 19 Desember 1949, maka Kecamatan Kapur IX merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Limapuluh Kota.

Nama-nama camat Kecamatan Kapur IX adalah:
  1. Azhar Hamid (1949-1952)
  2. Gudang (1952-1953)
  3. Tengku Aladin (1953-1954)
  4. Tengku Saleh (1954-1955),
  5. Bagindo Ami (1955-1955)
  6. R. Dt. Doyok (1955-1957)
  7. Maran (1957-1960)
  8. Amran Zai (1960-1963)
  9. Naswar (1963-1964)
  10. Hatribal (1964-1967)
  11. Yusri,HI (1967-1968)
  12. Syahruddin (1968-1969)
  13. Amasri,BA (1969-1972)
  14. Mahyudin Tamara BA (1972-1973)
  15. Muzahar Abdulah, BA (1973-1977)
  16. Yohanes Dahlan ,BA (1977-1980)
  17. S.Dt.Rajo Sulaiman BA (1980-1983)
  18. Ruswan Abbas ,BA (1983-1985)
  19. Drs. Syafruddin Darab, BA (1985-1986)
  20. Drs. Mohammad Guntur (1986-1989)
  21. Karateker Drs. Syahmunir (1989-1990)
  22. Drs.Erminas (1990-1994)
  23. Drs. Don Adonis (1994-1996)
  24. Drs. Ridwan (1996-1998)
  25. Busman,BA (1998-2000)
  26. Musdar Darwis, Ba (2000- 2002)
  27. Ir. Wal Asri (2002-2004)
  28. Drs.Basnida Efrizal.M.Si (2004-2005)
  29. M.Ali Firdaus,S.Sos (2005-2008)
  30. Drs.Ilyas (Jan 2009- Mar 2010)
  31. Yan Agusra.S.Sos.M.Si (Mar 2010-Desember 2010)
  32. Elsiwa Fajri (Januari 2011-Sekarang)

Agama

Untuk menunjang kehidupan beragama di Kecamatan Kapur IX terdapat fasilitas tempat ibadah berupa Masjid (22 buah), Mushala (8 buah), dan Langgar (34 buah). Masyarakatnya 100 % memeluk agama Islam. Jumlah ulama 24 orang, mubalig 93 orang, penyuluh agama 13 orang dan khatib 22 orang.

Kependudukan

Jumlah penduduk Kecamatan Kapur IX adalah 26.479 jiwa yang terdiri dari laki-laki 13.587 jiwa dan perempuan 12.892 jiwa dengan sex Rasio 105,39 % dan tingkat kepadatan penduduk 37 jiwa/Km². Sumber mata pencaharian penduduk adalah petani baik sebagai petani sawah maupun sebagai petani karet dan gambir dengan persentase 87 %, pedagang 10 % dan lainnya 3 % dari jumlah penduduk yang usianya produktif.

Pendidikan (aducation)

Sarana pendidikan di Kecamatan Kapur IX yang telah tersedia sejak tingkat pendidikan TK sampai SLTA. Sarana pendidikan TK berjumlah 20 (dua puluh) unit. Sarana pendidikan SD tersebar disemua nagari berjumlah 31 (tiga puluh satu) unit. Untuk tingkat pendidikan SLTP Negeri 4 (empat) unit. Dan untuk tingkat pendidikan SLTA berjumlah 1 (satu) unit.

Kesehatan (healthy)

Dibidang kesehatan, fasilitas dan sarana kesehatan di Kecamatan Kapur IX juga masih sangat terbatas. Untuk melayani 7 Nagari yang ada hanya terdapat 2 unit Puskesmas , 7 unit Puskesmas Pembantu (Pustu) , Polindes 10 unit dan Posyandu 30 unit. Adapun tenaga medis yang terdapat di kecamatan ini terdiri dari 4 orang dokter, perawat 8 orang, 18 orang bidan.

Pertanian dan perkebunan (farm and plantation)

Di bidang Pertanian dengan luas Sawah 1.204 Ha,produksi Padinya belum mampu untuk memenuhi konsumsi masyarakat di Kecamatan Kapur IX, peluang peningkatan produksi adalah melalui penanaman Padi Ladang. Lahannya yang berbukit dan bergelombang merupakan potensi besar dalam penanaman gambir dimana masyarakatnya telah yang mempunyai lahan gambir terluas di Kabupaten Limapuluh Kota, yakni seluas 5.682 ha dengan total produksi 4.764,10 ton pertahun atau 40,4 % dari total produksi Kabupaten Limapuluh Kota sebesar 11.790,60 ton.

Peternakan dan perikanan (livestock and fishermen )

Kerbau merupakan hewan ternak besar yang paling banyak terdapat di Kecamatan Kapur IX. Populasi ternak Kerbau 802 ekor, Sapi adalah 351 ekor, Kambing 1.328 ekor .Selain itu, jenis unggas yang paling banyak terdapat adalah Ayam Buras dengan populasi mencapai 46.694 ekor dan Itik 8.571 ekor, Ayam petelur 1.014 ekor. Sementara luas Kolam adalah 52,70 ha dengan produksi 700,24 ton/tahun, Luas Budidaya Ikan di Sawah 595 Ha dengan produksi 80,44 ton/tahun , luas penangkapan ikan diperairan umum dengan luas 450 ha dengan produksi 43,13 ton/tahun.

Di bidang Pertambangan Kecamatan Kapur IX mempunyai potensi seperti : Tambang Batu Bara di Kenagarian Koto Lamo. Nagari Galugua mempunyai potensi Tambang Batu Bara dan Marmar. Sedangkan potensi Galian C yang terdiri dari pasir dan batu berukuran kerikil (Sirtukil) terdapat di Btang Air Paiti,Pambangan, Kapur nan kaciak, dan Kapur nan gadang , dan Tanah Liat di Kenagarian Lubuak Alai.

Pariwisata (Tourism)

Di Bidang Pariwisata yang dapat dikembangkan dan perlu pengelolaan oleh anak nagari adalah : Di Kenagarian Lubuak Alai adalah Air terjun dan irigasi, di kenagarian Koto Lamo Batu Lasuang, Situs kebudayaan Batu Basurek dan sebuah Prasasti batu keramat dan batu mejan milik suku melayu Dt. Bosa Di kenagarian Sialang ada Panorama Alam. Di Kenagarian Muaro Paiti terdapat Pemandian Air Panas. Di nagari Durian tinggi terdapat Tapak Candi Koto Gilingan, sedangkan di kenagarian Galugua terdapat 3 okasi temat rekreasi yaitu; ngalau di tepi batang kampar, Batu kamunyi dan batu tungku. Goa atau ngalao apabila dikelola dengan baik dapat sebagai peningkatan ekonomi melalui pemeliharaan burung walet; seperti di kenagarian Koto lamo ada 25 lokasi, di kenagaraian Sialang terdapat ngalau Langkuik, Di Muaro Paiti ada 1 lokasi, dan di Galugua ada 2 lokasi yakni ngalao Batu Rajo dan Langkuik Kolam.

Pasar (market)

Untuk memasarkan hasil bumi dan membeli keperluan rumah tangga di Kecamatan Kapur IX pada masing-masing nagari mempunyai pasar nagari, Lubuak Alai Pasar Tipe A hari minggu, Dinagari Koto Lamo ada 3 unit, yakni di jorong Tanjung Bungo setiap hari Rabu, Jorong Koto Tangah setiap hari Kamis, dan di jorong Koto Tuo setiap hari jumat, di Nagari Sialang ada 2 unit di jorong Ranah Bengkek hari jumat dan pasar di Sialang Ateh hari jumat. Di nagari Muaro Paiti pasar Tipe B pada hari kamis, Pasar Durian Tinggi Type A pada hari senin , dan di Galugua pasar Type A pada hari jumat.

BONCAH TANGKULUAK

Selasa, 28 Mei 2013

GAMBIERDAN MANAAT DARI GAMBIER


Anggaran Pariwisata Kota Padang Naik 100 Persen

PADANG, BeritAnda - Anggaran untuk pariwisata Kota Padang, tahun depan akan mengalami peningkatan 100 persen dari tahun sebelumnya. Jika pada tahun 2012 hanya sebesar Rp4 miliar, namun pada tahun 2013 akan menjadi Rp7 miliar.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Padang, Asnel mengatakan, peningkatan ini disebabkan, karena banyaknya objek-objek wisata yang ada di Kota Padang yang perlu di perbaiki. Bahkan menurutnya, akses menuju objek wisata yang ada, juga sudah banyak yang tidak bagus lagi.
Asnel juga menambahkan, untuk tahun 2013, Pantai Air Manis akan menjadi objek wisata unggulan Kota Padang. Menurutnya, untuk perbaikan infrastruktur pantai air manis, akan di anggarkan dana sebesar Rp2 miliar. Bahkan pada tahun 2013, kapal malin kundang yang menjadi andalan objek wisata di Pantai Air Manis yang saat ini sudah tertimbun, akan segera dibangun baru.
Sementara itu, terkait dengan kendala yang selama ini sering dikeluhkan pengunjung terhadap objek-objek wisata di Kota Padang, Kadinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Padang, akan melakukan sosialisai kepada masyarakat, lewat Sapta Pesona Wisata. Sehingga, masyarakat setempat akan lebih memahami, bagaimana meningkatkan kunjungan objek wisata di Kota Padang. (yd)

tetapi walaupun adannya kenaikan pariwisata tersebut namun pembangunan pariwisata di kapur sembulan tidak ada sama sekali dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap hal tersebut, tetapi kalau pemerintah mau saja memberikan sedikit perhatian terhadapat pariwisata di daerah terpencil tersebut ini akan membuat kenaikan income kepada pendapatan daerah itu tersebut dan akan menambah pendapatan daerah tersubut.


Gambier

Gambier a.k.a catechu, a common ingredient used by Asians in chewing betel nut, is prepared from parts of the shrub Uncaria gambier (Uncaria gambir) of the family Rubiaceae. There are two varieties of catechu: pale and black. Gambier is the pale variety, while black catechu is obtained from the tree Acacia Catechu.

Origins and distributionNative of the Malayan archipelago, Uncaria gambier shrubs are found in Malaysia, Singapore, Indonesia and the surrounding islands. It probably originated in Sumatra and Borneo. It is speculated that the method of preparing gambier was adopted by the Malays from the Indian way of preparing catechu from the Areca catechu plant. It is believed that lozenges made of gambier were available and traded in Malaysia even in the 17th century.

Gambier plantations in Singapore
When the British arrived in Singapore in the 1819, there were already 20 gambier plantations in Singapore, ran by the Chinese and Malays. The produce was mainly exported to China. In the 1830s, the British encouraged the locals to take up other forms of agriculture but it was found that many spices, which were in demand in the western markets, could not be easily grown here because of unsuitable soil and environmental conditions. The only two crops found to be viable as plantation crops were gambier and pepper which had already been in cultivation then. Gambier and pepper plants tend to grow entwined around each other and share a symbiotic relationship. Gambier leaf remains act as nutrients or fertilisers for pepper plants and protects the latter's roots at the same time. In the 1830s, Singapore's gambier found a big market in the British dyeing and tanning industry. This resulted in increased gambier prices which pushed the Chinese to find fresh land for new plantations, leading to the clearing of the island's interiors, especially in the north and the west.

These plantations were highly successful, providing employment to many locals and immigrants. Gambier and pepper plantations were mainly found in the Nee Soon area along the Seletar River. Among planters who struck rich with gambier were Chan Ah Lak, Soh Tye Whoy, Yeo Ah Chong, Low Ah Choon, and the "king of gambier", Seah U Chin, a.k.a,
 Seah Eu Chin (b. 1805 - d. 1883). Seah owned huge plantations in Upper Thomson Road, Sembawang and Mandai. He also owned a well-known gambier trading house along Singapore River. It is believed that he was the first person to start gambier and pepper planting on a large scale in Singapore. Gambier and pepper produce was transported to town via the Sungei Seletar waterways. Many shops dealing with gambier were located along the Singapore River. The Teochews reportedly dominated the trade.

A profitable crop, gambier fetched earnings of around $77 per plantation at the peak of the gambier trade which lasted from the 1830s to the 1850s. Plantation workers earned about $57 per annum. Europe was a major market. Unfortunately, after about 10 to 15 years, the soil became exhausted and depleted and the infertile soil could no longer sustain further growth of these plants. The plantations were then moved to other Malayan states, mainly to Johore, from the late 1840s onwards, and more so in the 1860s. In 1883, there were reportedly 4000 gambier producing factories in Johore. Though most of the plantations moved out of Singapore, planters continued to sell gambier to businessmen in Singapore who in turn traded them. Singapore became the main centre of gambier trade, collecting and exporting the produce, and remained so for many years until the dawn of the 20th century. Developments that pushed gambier out of the plantation grid were the introduction of pineapple canning in 1888 which resulted in the expansion of the pineapple industry, and the rapid development of the motorcar industry at the turn 20th century which sparked off a very high demand for rubber. By early 20th century, pineapple and rubber had replaced gambier as the most important plantation crops in Singapore.

Description
Uncaria gambir shrubs are slender woody vines or climbers. In cultivation, they can be seen growing as bushes. The plants grow to around eight feet high. The vine climbs in grapples and therefore the Malay call it kekait which comes from the term kait-kait, meaning to climb in "grapples". During the early stages of growth, the young plants need very wet conditions. They are therefore commonly found in the wettest parts of Malaysia and Indonesia, such as Western Malaysia and West Java. The leaves are oval or oblong in shape measuring 8 to 14 cm. in length with 4 to 5 pairs of nerves. The flower heads measure around 2.5 cm in length and are separated across by 3 to 4.5 cm. The flowers are slender with white coloured lobes and a red coloured corolla.

Gambier preparation
Traditional gambier is prepared by boiling the young leaves, pressing them to extract juice, making the juice into a concentrated form and drying it. There are different ways of moulding the final produce, in a block, cube or cake form. Different ways of boiling parts of the gambier plant result in different products of a varying taste. For example, the Chinese boil twigs over a prolonged period of time and make the end product as dry as possible resulting in a different kind of gambier. In India, rose water is mixed with cutch to make it aromatic and to give a more pleasant taste to the betel-quid. The traditional way to consume gambier is to apply it as a paste on betel leaves after mixing it with lime and water, wrapping the leaves with some betel nuts and chewing it. It has a mild narcotic effect and stains the mouth red. In Southeast Asia, gambier is sometimes chewed alone as a gum.

In Singapore, the bangsals, a form of dwellings doubled as a place where labourers could prepare gambier. The word bangsal was also used to refer to a gambier-pepper plantation.

Uses
Medicine: All parts of the plant have astringent properties. The leaves of the plant contain a tannin called catechin which has a high pH value, making it acidic. Younger leaves of the plant have a higher catechin content than the older ones. In India, gambier was used as skin lotions since, supposedly, remote times. The Malays also use gambier as a lotion and apply it to treat burns. In paste form, it is used to treat scurf. It has commonly been used by the Indians and Malays to treat diarrhoea and dysentery, and as a gargle for sore throat. In Borneo, gambier has been used in the treatment of sciatica and lumbago.

Other uses: Gambier Catechu yields a colour known as "Cutch Brown" which is used for dyeing and tanning cotton, wool and silk. It is also used on leather, such as calf and kip skins. The common 'khaki' colour is obtained from it.

Variant Names
Common name: Gambier.
Scientific name: Uncaria gambir (Synonym: Catechu pallidum).
Chinese name: Er Cha.
Malay name: Kachu, Kekait, Gambir.
Other names: Catechu, Terra Japonica, Japonica, Cutch, Kutch, White Cutch, Gambir, Gambeer.
you know guys.....a lot o country need this gambier,,, you can  find in my village

GAMBIER LIFE

Wiggin Street Coffee

The Gambier coffeehouse is just the right place for gathering, sipping, and noshing.
Three things to know about Gambier: 1. Everyone's here. 2. Everything you need is here. 3. What you want is nearby. Meals and conversations with your friends? Just steps away. Parties are open. Everyone's invited. The rhythms of village life are energetic, deep, infectiously social, and inclusive. In Gambier, you learn that living small is the surest path to living large. Because everyone makes it happen. Together.