Tampilkan postingan dengan label riau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label riau. Tampilkan semua postingan

practice and visited some place

Selasa, 18 Juni 2013

welcome to our traveling
it is me when I was visiting a place in riau

it is me when I was visiting king graft yard in riau rokan hulu


it is me when I am in front of my english course



waiting someone on the way


it is the center of rokan hulu building
it was my students learning some drama




it was in rokan river bank
it is vegetable leaf
it is me in my office

it is visiting friend

WISATA MELAYU RIAU

Kamis, 13 Juni 2013

Dunia Wisata Melayu untuk Semua
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu

Syukur alhamdulillah kami panjatkan atas publikasi dan pesatnya perkembangan portal www.wisatamelayu.com ini. Sejak diluncurkan pada 10 Januari 2008, hingga saat ini www.wisatamelayu.com telah melampaui peringkat situs-situs wisata lain, baik yang dikelola swasta maupun situs resmi milik pemerintah.
Gagasan awal pendirian portal ini bermula dari kegelisahan saya menyaksikan perkembangan promosi pariwisata (terutama di dunia maya) di kawasan Nusantara dan sekitarnya yang tidak ditangani secara serius. Situs-situs pariwisata baik yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta terkesan dibuat dan dikelola secara asal-asalan. Akibatnya, calon wisatawan yang memerlukan informasi secara cepat, ringkas, dan cukup memadai kebanyakan harus menelan kekecewaan. Kenyataan ini tentu saja berseberangan dengan tren pencarian informasi calon wisatawan yang sebagian besar memanfaatkan jaringan internet. Media promosi melalui internet, selain lebih murah, juga lebih cepat dan dapat menjangkau seluruh dunia.
Di sisi lain, saya percaya bahwa dunia pariwisata merupakan sarana rekreatif yang mampu menunjang kesehatan jiwa masyarakat dunia. Pariwisata juga menguntungkan secara ekonomi melalui perputaran uang dalam industri ekonomi kreatif. Bahkan, ke depan, sebagian pihak meramalkan industri pariwisata bakal melesat dan menjadi sumber ekonomi alternatif  bagi kemakmuran sebuah negara selain industri manufaktur.
Lebih dari itu, jika dilihat dari perspektif kebudayaan, kemajuan industri pariwisata di tiap belahan dunia sebetulnya menunjukkan keberhasilan mempertemukan manusia dari beragam latar belakang budaya. Perjumpaan lintas-budaya yang terjalin melalui dunia pariwisata inilah yang kelak akan menjamin kehidupan manusia tetap berada dalam suasana berbeda namun saling pengertian, suasana terbuka dan saling menghargai.
Bagi masyarakat Melayu, dunia pariwisata adalah potensi besar untuk memperkenalkan kekayaan panorama alam, khazanah kebudayaan yang meliputi kesenian, upacara adat, kuliner, serta peninggalan-peninggalan bersejarah lainnya kepada dunia. Melalui industri pariwisata, budaya Melayu dapat dikenal, dikunjungi, diapresiasi, dan “duduk berdampingan” dengan kebudayaan-kebudayaan lain di seantero dunia.
Berangkat dari pemikiran ini, saya lalu mempelajari ratusan situs dari seluruh dunia untuk mengetahui kelemahan dan keunggulan masing-masing situs. Hasil penelusuran tersebut saat ini telah tertuang melalui dua menu utama dalam www.wisatamelayu.com, yaitu informasi obyek wisata yang diklasifikasikan berdasarkan letak geografis (negara, negara bagian, maupun provinsi dan kabupaten), serta informasi yang disajikan berdasarkan kategori atau jenis-jenis obyek wisata. Dua klasifikasi ini disajikan untuk memudahkan navigasi calon wisatawan yang menginginkan informasi melalui wilayah geografis maupun ketegori obyek-obyek wisata.
Sebagaimana namanya, www.wisatamelayu.com meluaskan cakupan informasi pariwisata hingga duabelas negara yang masing-masing merupakan kawasan persebaran masyarakat dan kebudayaan Melayu. Mulai dari Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, Myanmar, Kamboja, Vietnam, Filipina, Srilanka, Madagaskar, hingga Afrika Selatan. Cakupan yang begitu luas ini tentu saja dimaksudkan sebagai upaya untuk mendukung promosi dan pengenalan obyek-obyek wisata di seluruh kawasan Dunia Melayu, baik yang berupa obyek wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata religius, wisata kuliner, wisata minat khusus, wisata olahraga, maupun wisata belanja dan wisata umum lainnya.
Akhirnya, saya harus mengakui bahwa upaya mewujudkan kebangkitan pariwisata di kawasan dunia Melayu ini sesungguhnya bukan hanya tanggungjawab kami, melainkan tanggungjawab bersama. Dukungan riil baik berupa sokongan data, pemasangan iklan wisata dan dana sangat diperlukan untuk kelangsungan upaya besar ini. Sebab, apalah makna media promosi pariwisata jika tak ada perhatian dan dukungan nyata dari para stake holder dunia pariwisata, yaitu masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah, khususnya kementrian dan dinas pariwisata (provinsi / kabupaten kota). Melalui www.wisatamelayu.com kita dapat buktikan, bahwa dunia pariwisata adalah gerbang bagi kehidupan masa depan yang lebih makmur, setara, berbudaya dan saling menghargai.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
donasi
Hormat Kami


Tsue Cimiong Awingsanara

Air Terjun Aek Martua | Wisata Rokan Hulu

rowse » Home » , » Air Terjun Aek Martua | Wisata Rokan Hulu
June 05, 2009

Air Terjun Aek Martua | Wisata Rokan Hulu

Air Terjun Aek Martua | Wisata Rokan Hulu
Wisata Riau - Air Terjun Aek Martua ini adalah salah satu wisata unggulan di kabupaten Rokan Hulu (Rohul) Provinsi Riau Indonesia. Aek Martua adalah nama sebuah sungai di wilayah Desa Tangun Kecamatan Bangun Purba dan Air Terjun Aek Martua adalah air terjun yang tertinggi dari sekian banyak air terjun yang terdapat disepanjang hulu sungai. Bukit Simalombu inilah nama kawasan ini yang merupakan hutan alam berstatus Taman Hutan Raya dengan potensi pohon ratusan kubik. Nama Aek Martua berasal dari bahasa suku Mandailing yang artinya adalah Air Bertuah, dimana mayoritas penduduk desa ini adalah suku mandailing.


Air Terjun Aek Martua | Wisata Rokan Hulu
Air Terjun Aek Martua
Lokasi air terjun Aek Martua berada di kawasan pegunungan Bukit Barisan dalam kabupaten Rokan Hulu. Air Terjun Aek Martua ini memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri karena memiliki tiga tingkat. Aek Mertua ini memiliki panorama alam yang mempesona. Airnya yang jernih bak kemasan air mineral, sungguh membuat sedap mata memandang. Di samping menjadi obyek wisata, sekarang Aek Martua ini, telah pula menjadi objek penelitian oleh sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Pekanbaru.


Air Terjun Aek MartuaUntuk mengunjungi Air Terjun Aek Martua ini anda dari Pekanbaru – Pasir Pengaraian ( naik angkutan L300 atau Superban Rp. 35.000) turun di Simpang Tangun. Kemudian naik angkutan menuju Tangun dengan jenis Oplet dan Omprengan Rp. 5000. Di pintu masuk objek wisata ini mulai melewati jembatan gantung dan jalan setapak di perkebunan masyarakat sejauh kurang lebih 3, 5 Km, kemudian melewati kawasan hutan lindung sejauh kurang lebih 3 Km. terdapat tanjakan dan turunan yang lumayan curam serta pemandangan indah. Panorama hutan yang masih alami akan menemani kita menuju Air Terjun Aek Martua ini.

Credit Foto: www.flickr.com

Informasi PON Riau 2012, Wisata, Seni dan Budaya, Kuantan Singingi, Pekanbaru dan Riau umumnya melalui sudut pandang seorang Blogger yang berasal dari Sungai Kuantan

Sejarah Awal Di Bangun Candi Muara Takus, Riau

Posted by alfi
Sejarah Awal Di Bangun Candi Muara Takus, Riau - Nama Muara Takus mungkin belum sepopuler Candi Borobudur, Prambanan. Akan tetapi nuansa sejarah yang ditawarkan tidak kalah menarik.Candi Muara Takus merupakan candi terbesar di Sumatera. Stupa candi ini tidak lazim seperti candi aliran Budha lainnya. Umumnya Stupa candi - candi Budha berbentuk lonceng duduk. Lokasi wisata ini terletak sekitar 135 km dari kota Pekanbaru.

Candi Muara Takus merupakan candi penganut agama Buddha. Ada yang berpendapat bahwa candi ini peninggalan agama Buddha yang datang dari India karena bentuknya mirip dengan Candi Acoka yang ada di India. Namun ada pula yang berpendapat bahwa ini merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

Sejarah Awal Di Bangun Candi Muara Takus, 
RiauDalam sejarahnya, Desa Muara Takus sebelum menjadi pusat pengajaran agama Budha, merupakan sebuah daerah yang dulunya sempat disinggahi pelaut-pelaut dari Kerajaan Sriwijaya dengan menyusuri Sungai Kampar Kanan.

Pertemuan antarbudaya pun terjadi hingga akhirnya didirikanlah Candi Muara Takus untuk tempat peribadatan.

Pandangan ini didasarkan pada tafsirannya atas catatan pendeta Budha asal Cina, I-tsing, yang pernah tinggal di kerajaan itu untuk mempelajari tata bahasa Sanskerta pada 672. Persinggahan I-tsing dilakukan dalam perjalanan dari Kanton menuju Nalanda, pusat pendidikan agama Budha di India.

Dari Sriwijaya, pendeta itu sempat menetap di Kerajaan Melayu selama dua bulan, lalu berlayar dan tinggal sebentar di Kedah. Sekembali dari Nalanda pada 685, ia mendapati bahwa Kerajaan Sriwijaya telah meluaskan kekuasaannya dan menjadikan Kerajaan Melayu sebagai daerah taklukannya.

Menurut Moens, catatan I-tsing yang menyebutkan bahwa di pusat Kerajaan Sriwijaya pada tengah hari orang berdiri tanpa bayangan merujuk pada lokasi di garis khatulistiwa. Lalu lokasi Muara Takus berada dekat dengan pertemuan dua sungai, Kampar Kanan dan Batang Mahat, yang menjadi jalur perdagangan yang ramai.

Tambahan lagi, terdapat bukti bahwa pusat kerajaan itu sering berpindah mengikuti jalur perdagangan yang ramai. Ia pun menyimpulkan, setelah menguasai Kerajaan Melayu, pusat Kerajaan Sriwijaya pindah ke Muara Takus. Tapi menurut Prof. Dr. Herwandi, Dekan Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, banyak sarjana yang memperkirakan bahwa Kerajaan Melayu yang dikuasai Sriwijaya ketika itu berlokasi di Jambi sekarang.

Perkiraan ini terutama berdasarkan pada hasil penelitian geomorfologi pantai timur Sumatera pada 1950-an. Hasil penelitian itu menyimpulkan, pada abad ketujuh, Jambi dan Palembang masih berada dekat dengan laut. "Makin ke sini, menurut para ahli pantai, daratan pantai timur ini bertambah 75 meter setiap tahun," ujarnya.

Selain itu, dilihat dari letaknya, Jambi memiliki kedudukan lebih strategis dalam lalu lintas pelayaran dan jalur perdagangan dari India ke Cina, juga Jawa. Lebih-lebih, di Jambi ada peninggalan kompleks candi Budha yang sangat luas. Pakar sejarah dan filologi Indonesia pun, seperti Slamet Muljana, lebih cenderung menyatakan bahwa Kerajaan Melayu ketika itu terletak di muara Sungai Batanghari atau Jambi sekarang.

Lepas dari pro-kontra soal riwayat Muara Takus itu, satu hal dapat dipastikan: gugusan candi di Muara Takus ditemukan geolog berkebangsaan Belanda, Cornet de Groot, pada 1860. Memang, temuan ini tidak menjawab pertanyaan kapan pastinya kompleks candi itu dibangun. J.L. Moens, sesuai dengan kesimpulannya ihwal pusat Kerajaan Sriwijaya, memperkirakan bahwa kompleks candi itu dibangun pada abad ketujuh.

Pakar arkeologi Jerman, F.M. Schnitger, berpandangan lain lagi. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya pada 1935, 1936, dan 1938, ia menyatakan kompleks candi itu dibangun pada abad ke-11 dan ke-12. Namun ada pakar lainnya menyatakan bahwa candi-candi itu dibangun pada masa sebelum itu, yakni sekitar abad ke-10.

Sayangnya, belum ditemukan prasasti atau catatan sejarah yang menentukan kapan pastinya kompleks candi Budha Tantrayana itu dibangun. Tabir sejarah Candi Muara Takus boleh jadi sedikit terbuka dari prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Salah satunya adalah Prasasti Kedukan Bukit tahun 604 Saka, yang bertepatan dengan tahun 683 Masehi.

Dalam prasasti itu tertulis bahwa Dapunta Hyang Sri Jayanasa, penguasa Sriwijaya pada masa itu, melakukan perjalanan naik perahu membawa puluhan ribu tentara. Perjalanan dari Minanga Tamwan ini dilakukan pada hari ketujuh bulan Jesta ke arah selatan. Ada sejarawan yang menafsirkan, kawasan Minanga Tamwan adalah kawasan Muara Takus sekarang.

Ulama

Selasa, 16 April 2013


Syeikh Abdul Wahab Rokan dan Tarikat Naksyabandiah

Posted by pakcikli00 di 5 September 2011

Kendati telah wafat sejak sekitar 77 tahun silam, keberadaannya terasa di Kampung Babussalam, Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara. Peziarah mengalir ke makamnya di kampung yang didirikannya. Syekh Abdul Wahab Rokan memang dikenal sebagai ulama ternama di Sumaera.
Lahir pada 19 Rabiul Akhir 1230 H (28 September 1811) di Kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Negeri Tinggi, Rokan Tengah, Kab. Rokan hulu, Riau, Wahab tumbuh di lingkungan keluarga yang menjunjung agamanya. Nenek buyutnya, H Abdullah Tembusai, dikenal sebagai alim ulama besar yang disegani.
Salah seorang putra Abdullah Tembusai, bernama M Yasin menikah dengan Intan. Buah perkawinan itu melahirkan di antaranya Abdul Manap. Putra tertuanya ini, kemudian menikah dan melahirkan Syekh Wahab Rokan.
Dengan titisan darah demikian, Wahab sejak kecil terdidik, terutama untuk pelajaran agama. Demi menghapal AlQuran, Wahab kecil tak jarang bermalam, di rumah gurunya. Ia pun patuh pada guru, bahkan kerap mencucikan pakaian orang yang mendidiknya itu.
Keistimewaan telah tampak sejak Wahab masih bocah. Suatu ketika, saat orang terlelap pada dinihari, Wahab masih menekuni AlQuran. Mendadak muncul seorang tua mengajarinya membaca aLQuran. Setelah rampung satu khatam, orang tua itu menghilang.
Kesalihannya ini tak jarang mengalami godaan. Saat ia melanjutkan pendidikan di Tembusai, seorang wanita menggodanya, bahkan mengunci pintu tempat Wahab berada. Wahab terus melantunkan doa sehingga terlepas dari jebakan wanita yang tergila-gila padanya. Begitu pun, suatu ketika saat mandi di sungai, seorang gadis melarikan sarungnya.
Godaan itu tak membuat imannya meleleh. Bahkan, ia kian kukuh mendalami ilmu agama. Setelah dari Tambusai, ia pun ke Malaysia, untuk mendalami ilmu agama kepada Syekh H M Yusuf asal Minangkabau. Wahab yang tumbuh menjadi pemuda berdagang untuk menopang kehidupannya. Menariknya, berkat kesalihannya, ia menyuruh pembeli menimbang sendiri barang yang dibeli. Ini demi menghindarkan kecurangan.
Melanjutkan pendidikan ke MAkkah, ia belajar kepada beberapa guru, di antaranya Zaini Dahlan (mufti mazhab Syafii), Syekh Zainuddin Rawa. Terakhir, ia mendalami ilmu tarEkat kepada Syekh Sulaiman Zuhdi di puncak Jabal Abi Kubis. Sulaiman Zuhdi dikenal sebagai penganut tarEkat Naqsyabandiah.
Menyimak ketekunan muridnya, suatu ketika Sulaiman Zuhdi, resmi mengangkat Wahab sebagai khalifah besar. Penabalan itu diiringi dengan bai’ah dan pemberian silsilah tarekat Naqsyabandiyah yang berasal dari Nabi Muhammad SAW hingga kepada Sulaiman Zuhdi yang kemudian diteruskan kepada Wahab. Ijazahnya ditandai dengan dua cap. Ia pun mendapat gelar Al Khalidi Naqsyabandi.
Setelah kurang lebih enam tahun di MAkkah, ia kembali ke Riau. Di sana, ia yang saat itu berusia 58, mendirikan Kampung Mesjid. Dari sana, ia mengembangkan syiar agama dan tarEkat yang dianutnya, hingga Sumatra Utara dan Malaysia. Namanya pun semerbak. Raja di berbagai kerajaan di Riau dan Sumatra Utara mengundangnya.
Suatu ketika, Sultan Musa Al-Muazzamsyah dari Kerajaan Langkat, gundah. Putranya sakit parah dan akhirnya wafat. Rasa kehilangan ini tak terperikan. Syekh HM Nur yang — sahabat karib Wahab saat di MAkkah — menjadi pemuka agama di kerajaan, menyarankan agar Sultan bersuluk di bawah bimbingan Wahab. Sultan menyetujui dan mengundang Wahab.
Wahab pun datang ke Langkat. Ia mengajarkan tarEkat Naqsyahbandi dan bersuluk kepada Sultan. Setelah berulang bersuluk, Sultan Musa — yang belakangan melepaskan tahtanya dan memilih menekuni agama — memenuhi saran Wahab, menunaikan ibadah haji, sekaligus bersuluk kepada Sulaiman Zuhdi di Jabal Kubis.
Berkat kekariban hubungan guru-murid, Sultan Musa menyerahkan sebidang tanah di tepi Sungai Batang Serangan, sekitar 1 km dari Tanjung Pura. Sultan berharap gurunya dapat mengembangkan syiar agama dari tanah pemberiannya. Wahab menyetujui dan menamakan kampung itu Babussalam (pintu keselamatan). Maka pada 15 Syawal 1300 H, ia bersama ratusan pengikutnya, menetap di sana.
Babussalam berkembang menjadi kampung dengan otonomi khusus. Menjadi basis pengembangan tarEkat Naqsyahbandiyah di Sumatra Utara, Wahab membentuk ‘pemerintahan’ sendiri di kampung itu. Perangkatnya antara lain dengan membuat Lembaga Permusyawaratan Rakyat (Babul Funun).
Hingga kini, kampung itu terjaga sebagai pusat pengembangan tarekat Naqsyahbandiyah. Tetap mendapatkan perlakuan khusus dari Pemda setempat, aktivitas sehari-hari — ditandai dengan kegiatan suluk setiap hari — dipimpin khalifah. Saat ini khalifah kesepuluh Syekh H Hasyim yang memimpin.
Kendati terjalin erat, hubungan Wahab dan Sultan, tak berarti selalu harmonis. Bahkan antara keduanya sempat renggang, saat Wahab difitnah membuat uang palsu. Akibatnya, Sultan memerintahkan penggeledahan ke rumah Wahab. Kendati tak terbukti, bahkan saling memaafkan, Wahab seusai peristiwa itu pindah ke Malaysia. Kepindahannya ini kabarnya menyebabkan sumur minyak di Pangkalan Brandan surut penghasilannya.
Begitu pun, suatu kali penjajah Belanda ‘menekan’ Sultan. Dalihnya, berbekal potret Wahab, ditengarai Tuan Guru Babussalam — demikian panggilan kehormatannya — turut bertempur membantu pejuang Aceh melawan Belanda. Padahal, pada saat bersamaan, pengikutnya menegaskan Tuan Guru berdzikir di kamarnya.
Kembali ke Babussalam, setelah terharu menyaksikan kampung yang dibangunnya menyepi, Tuan Guru menetap di Babussalam. Bersama pengikutnya, ia kembali membangun Babussalam. Tak sekadar berkembang pesat, Tuan Guru bersama Babussalam tumbuh disegani. Tak ayal, Belanda berusaha menjinakkannya.
Maka pada 1 Jumadil Akhir 1241 H, Asisten Residen Van Aken, menyematkan bintang kehormatan kepadanya. Kendati demikian, tak berarti Tuan Guru, terpedaya. Bahkan, di saat prosesi penyematan, Tuan Guru dalam sambutan meminta Van Aken menyampaikan kepada Raja Belanda untuk masuk Islam. Menilai pemberian bintang itu sindiran, ia meminta pengikutnya lebih giat. Bintang kehormatan itu pun kemudian diserahkan kepada Sultan Langkat.
Kendati dikenal sebagai pemuka agama, tak berarti Tuan Guru tak memiliki kepedulian pada politik. Ia mengutus anaknya untuk menemui HOS Cokroaminoto pada 1913. Tujuannya untuk membicarakan pembukaan cabang Sarekat Islam di Babussalam. Tak lama kemudian, SI pun berdiri di kampung yang dipimpinnya.
Tuan Guru wafat di usia 115, pada 21 Jumadil Awal 1345 H (27 Desember 1926), meninggalkan 4 istri, 26 anak, dan puluhan cucu. Hingga kini, setiap peringatan hari wafat (haul), dirayakan besar-besaran. Ratusan pengikutnya yang memegang tarekat Naqsyahbandiah dari berbagai kota di Sumatra hingga Malaysia, dan Thailand hadir.
Silaturahmi di Negeri Seribuk Suluk
Para zurriyat, khalifah dan jamaah Babussalam terserak di dalam maupun luar negeri. Akibatnya silaturahmi menjadi longgar. Demi mengikat silahturahmi Ikatan Keluarga Babussalam Langkat menyelenggarakan silaturrahmi nasional (silatnas).
Berlangsung mulai 18 hingga 20 Oktober mendatang, silatnas diadakan di kampung kelahiran Syekh Abd Wahab Rokan, di Rantau Binuang Sakti yang dijuluki ‘Negeri Seribu Suluk’. Acaranya selain tabliqh akbar, haflah Alquran, juga istighasah Tareqat Naqsyabandiyah. Di hari terakhir (20/10), silatnas ditutup dengan ziarah ke makam ibu dan Syekh Abd Wahad dan ke makan Syekh Zainuddin. Kemudian diikuti ramah tamah sekitar seribu peserta silatnas.

AIR MERUA (MERTUA WATER)
objek wisata riau
Air terjun Aek Martua teletak di Kabupaten Rokan Hulu kawasan Pegunungan Bukit Barisan. Nuansa sejuk dan ademnya dengan panorama yang mempesona menjadikan Aek Martua menjadi objek yang layak untuk kita kunjungi. Air terjun Aek Martua memiliki tiga tingkatan dan kebanyakan orang menyebutnya sebagai air terjun seribu tangga. Panorama yang memancar dari air terjun ini adalah airnya yang bening layaknya air mineral dengan udara yang lembab dan suasana yang nyaman. Dari pintu masuk wisata ini untuk mencapai Air Terjun Seribu Tangga ini kita harus berjalan kaki menyeberangi jembatan gantung dan melewati hutan lindung sejauh 3 sampai 7 kilometer dari dasar bukit, kemudian kita akan menemui kuburan Petapa Cipogas dalam perjalanan. Hutan lindung yang menambah suasana refreshing mata serta pernafasan dari udaranya yang sejuk.

OBJECT WISATA CANDI MUARA TAKUS ( MUARA TAKUS TEMPLE )
Objek wisata Riau
Situs wisata Candi Muara Takus adalah sebuah candi yang terletak di Desa Muara Takus Kecamatan Tiga Belas Koto, Kabupaten Kampar, Riau. Candi ini merupakan peninggalan kerajaan Sriwijaya. Candi ini merupakan bukti sejarah perkembangan Agama Budha di Indonesia. Candi ini digunakan masyarakat beragama Budha untuk beribadah. Ciri dari bangunan candi tersebut yang menunjukkan bangunan tersebut merupakan bangunan agama Budha adalah karena adanya stupa. Ketika Anda mengunjungi candi Muara Takus, Anda akan melihat stupa di sekitar candi. Di dalam kompleks candi ini juga terdapat bebrapa candi seperti Candi Sulung, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Mahligai Palangka. Bagi Anda yang beragama Islam, Anda tidak perlu takut mengunjungi candi ini, karena sekarang Situs Candi Muara Takus ini sudah tidak menjadi tempat perkembangan agama Budha lagi. Sekarang Candi Muara Takus sudah menjadi salah satu peninggalan sejarah pada masa kerajaan di Indonesia sekaligus sudah menjadi salah satu objek di Provinsi Riau.